Hati-hati! Berita Kriminal dan Medsos Ternyata Picu Bunuh Diri

Airlangga Gandhi

Kematian aktor Robin Williams pada 2014 silam ternyata memicu tindakan bunuh diri.

Research Scientist Facebook Moira Burke menuturkan, hasil studi yang yang dia lakukan bersama tim dalam jurnal "National Academy od Sciences" pada Juli lalu mengungkap kasus bunuh diri di Amerika Serikat meningkat 10 persen dalam lima bulan setelah pemberitaan bunuh diri Robin.

Artikel justru membeberkan aksi bunuh diri

Dikutip dari Antara, sekitar 60 persen penelitian (1.000 artikel berbahasa Inggris terkait bunuh diri yang paling banyak dibagikan) tidak menyertakan informasi yang melindungi seperti pencegahan bunuh diri dan bantuan terkait kesehatan mental.

Mayoritas isi artikel justru membeberkan elemen berbahaya seperti metode bunuh diri, lokasi, isi surat bunuh diri, informasi pribadi tentang orang yang sudah meninggal, membuat pemberitaan yang sensasional, menyederhanakan alasan bunuh diri seseorang dan memberikan kesan bahwa tindakan bunuh bisa dibenarkan.

Peran media sosial 

Selain pemberitaan media mainstream, media sosial juga bisa memengaruhi orang untuk melalukan tindakan bunuh diri. 

Sebuah studi pada tahun 2012 dalam American Journal Public Health mengungkapkan, cyberbullying dan  pelecehan di dunia maya menjadi alasan meningkatnya risiko tindak bunuh diri ini.

Peneliti menemukan, korban cyberbullying dilaporkan dua kali lebih mungkin mencoba bunuh diri ketimbang mereka yang bukan korban. Sementara untuk para pelaku kemungkinannya sebesar 1,5 kali lebih tinggi dibanding korban atau bukan pelaku.

Studi lainnya yang diterbitkan dalam Journal of Abnormal Psychology mengemukakan, meningkatnya angka depresi remaja di Amerika Serikat hingga lebih dari 60 persen pada 2009-2017 salah satunya dipicu media sosial.

Media harus melakukan perbaikan

Guna mencegah semakin maraknya aksi bunuh diri, Burke menyarankan adanya elemen informasi pencegahan yakni pilihan penanganan,layanan hotline bunuh diri, penjelasan bagaimana orang bisa membantu, atau kisah seseorang yang berhasil mengatasi pikiran bunuh diri.

Dia juga menekankan penulisan artikel menggunakan bahasa yang lebih aman ketimbang sensasional untuk mengurangi kemungkinan "penularan" perilaku bunuh diri.

Menurut Burke, pemberitaan yang menerapkan pedoman semacam ini justru bisa meningkatkan interaksi di Facebook. Dia mencatat adanya peluang kenaikkan jumlah re-share sebesar 19 persen untuk setiap panduan yang diikuti.

Senada, founder & adviser of Into The Light, Benny Prawira Siawu menyarankan, media massa sebaiknya menghindari menyebutkan metode ditambah sebab tunggal dalam pemberitaan kasus bunuh diri.

Dia juga merekomendasikan adanya informasi faktor bunuh diri yang kompleks, disertai pendapat para ahli terkait kasus bunuh diri yang diangkat, paparan yang mematahkan mitos bunuh diri dan stigma negatif seputar gangguan kesehatan mental.  

"Informasi yang melindungi pembaca dari upaya bunuh diri. Selalu tentang edukasi bunuh diri tidak selalu disebabkan faktor tunggal misalnya, cara mencegahnya," kata dia.

Sebaliknya, Benny tidak menyarankan paparan informasi teknis seseorang melakukan bunuh diri, melabeli bunuh diri dengan hal supernatural dan penggambaran yang meremehkan gangguan jiwa.

Sementara itu terkait kontrol di media sosial, salah satu media yang populer saat ini Instagram juga sudah berusaha ikut membantu melakukan pencegahan dengan penerapan sejumlah fitur.

Head of Safety Instagram, Vaishnavi J, mengatakan, pengguna bisa memanfaatkan sejumlah fitur yang tersedia untuk mencegah kecemasan atau perundungan hingga pencegahan tindak bunuh diri.

Di Instagram, sudah ada fitur-fitur, antara lain fitur Batasi, Senyap, kontrol komentar dan fitur pelaporan untuk membantu menghubungi  pihak otoritas jika mengetahui seseorang melakukan tindak yang membahayakan dirinya dan orang lain.

"Saat seseorang melihat unggahan bunuh diri, kami punya tim global 24/7 yang mempioritaskan laporan yang serius termasuk bunuh diri. Kami dorong pengguna menghubungi layanan hotline kami. Opsi laporan untuk mempermudah pelaporan sehingga kami bisa mudah membantu memberi pertolongan," tutur Vaishnavi.

Untuk membantumu terkait soal bunuh diri. Di bawah ini adalah sejumlah nomor pencegahan yang bisa dihubungi:

-Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes (021-500-454)
-Kamu juga dapat menghubungi komunitas ini melalui email [email protected] atau langsung membuka laman ‘Pendampingan’ dalam situs mereka https://intothelightid.wordpress.com/.
-LSM Jangan Bunuh Diri (021 9696 9293)

Editor: Fikriani

artikel terbaru