Ini Aturan Islam Tentang Hak Pekerja, Kamu Harus Tahu

Ebim Antoni


Pengesahan Omnibus Law menjadi undang-undang oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Senin (5/10/2020) memicu kontroversi. Mereka yang menolak UU Cipta Lapangan Kerja berpandangan bahwa aturan di dalamnya tidak memperlakukan buruh, pekerja atau karyawan sebagaimana mestinya. Mulai dari soal pemberian upah atau gaji hingga soal aturan cuti. 

Menurut pemerintah dan DPR tujuan undang-undang tersebut salah satunya untuk mendatangkan investor yang diyakini bisa menyejahterakan rakyat.  Namun, para pekerja tidak ingin dijadikan sebagai objek eksploitasi untuk menarik para investor. Mereka ingin diper lakukan dengan baik, adil dan layak. 

Dalam Islam, ada aturan tentang sebuah pekerjaan dilakukan. Di satu sisi, Islam sangat menekankan kepada para penganutnya untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Namun di sisi lain, Islam juga sangat menjaga hak-hak para pekerja, baik hak materi maupun nonmateri.     
Ajaran Islam yang menekankan soal etos kerja dapat dilihat pada QS. Al-Jumu’ah: 10 yang artinya, “Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung.” 

Islam mengajarkan agar muslimin setelah menunaikan ibadah, langsung bekerja keras untuk menghidupi dirinya. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa potensi yang ada di dunia ini berupa karunia Allah SWT sangat banyak. Maka dari itu, harus digali dan dimanfaatkan. Islam tidak menyukai muslimin yang malas bekerja, apalagi sampai putus asa.
 
Islam juga mengecam mereka yang menggantungkan nasibnya pada orang lain dengan cara meminta-minta, padahal fisiknya masih mampu untuk bekerja. “Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri.” (Hadis Imam Al-Baihaqi). Dalam hadis lain yang sangat populer dijelaskan: “Bekerjalah untuk duniamu seakan akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”

Namun di sisi lain, Islam juga sangat menekankan agar seorang atasan, majikan atau pengusaha menjaga hak pekerja, karyawan atau buruh yang bekerja padanya. Di antara hak-hak yang harus dijaga adalah memberi gaji mereka tepat waktu, memperlakukan mereka dengan baik dan adil (tidak mengeksploitasi), serta menjamin kesejahteraan mereka. 
Terkait soal gaji, ada sebuah hadits yang sangat populer yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi: “Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan.” Melalui hadist ini, Nabi Muhammad SAW bukan hanya berpesan agar gaji diberikan tepat waktu. Nabi juga  berpesan agar karyawan atau pekerja tahu perincian gaji mereka. Sehingga mereka bisa menimbang apakah gaji itu telah sesuai atau adil dengan pekerjaan yang mereka jalankan.  

Selain soal gaji, Islam juga menekankan soal memperlakukan karyawan, pekerja atau buruh dengan perlakuan yang baik, hormat dan layak. Sebagaimana tertuang dalam hadis Nabi Muhammad SAW: “Mereka (para pelayanmu atau pekerja) adalah saudaramu. Allah SWT menempatkan mereka di bawah asuhanmu. Sehingga barangsiapa mempunyai saudara di bawah asuhannya, maka harus diberinya makan seperti apa yang dimakannya (sendiri) dan memberi pakaian seperti apa yang dipakainya (sendiri), dan tidak membebankan pada mereka tugas yang sangat berat. Dan jika kamu membebankannya dengan tugas seperti itu, maka hendaklah membantu mereka (mengerjakannya).” (HR. Muslim).

Hadis ini merinci dengan jelas bagaimana seorang majikan atau atasa seharusnya memperlakukan karyawan atau pekerjanya. Mereka diminta berbuat adil dan menjaga perasaan mereka. Bahkan, Islam meminta mereka untuk berbuat egaliter (sejajar) dalam hal makanan, pakaian, dan bobot kerja. Tujuannya agar para pekerja merasa diperlakukan secara manusiawi. Tidak merasa diperlakukan secara tidak terhormat. Nabi Muhammad SAW menekankan bahwa jika seorang atas terpaksa memberi beban kerja yang melebihi yang seharusnya kepada pekerjanya. Maka atas itu diminta untuk membantunya. Atau, dalam regulasi tenaga kerja era modern, kelebihan beban kerja dikonversikan dengan bonus lembur.
 
Nabi Muhammad SAW memberi contoh nyata bagaimana memperlakukan pekerja atau karyawan dengan manusawi. Dalam sebuah haditsnya, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa melakukan pekerjaan untukku (Nabi) dan baginya tidak mempunyai rumah, maka ambillah rumah, atau dia belum beristri, maka menikahlah atau dia tidak memiliki kendaraan, maka ambillah kendaraan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). 
Bahkan, dalam sebuah hadis lain dijelaskan secara detail soal hak seorang pegawai pemerintahan (pegawai negeri sipil). Berikut bunyi haditsnya: “Bagi seorang pegawai negeri, jika ia belum menikah sebaiknya ia menikah. Jika ia tidak memiliki pelayan, hendaklah ia memiliki pelayan. Jika ia tidak memiliki tempat tinggal untuk ditempati, maka ia boleh membangun sebuah rumah. Dan orang-orang yang melampaui batas-batas ini, maka ia adalah perebut tahta (pencuri).” (HR. Abu Dawud). Jadi, Islam sangat memperhatikan hak-hak pekerja, karyawan ataupun buruh. Intinya, Islam ingin agar setiap atas atau majikan menyejahterakan pekerjanya dan memperlakukan mereka secara adil dan terhormat.

Oleh karena itu, pada kesempatan yang lain, Nabi Muhammad SAW sangat mengecam mereka yang tidak memberikan haji dengan layak kepada karyawannya. “Ada tiga orang yang akan didakwa Allah besok di hari Kiamat, di antaranya adalah seseorang yang mempekerjakan buruh dan mereka tidak membayar upahnya.” (HR. al-Bukhari). 

Editor: Fikriani

artikel terbaru