Penjelasan Lengkap Hukum Islam yang Mengatur Hubungan Atasan dan Karyawan

Hikmat Rabbbani

Pengesahan Omnibus Law menjadi undang-undang oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada Selasa (8/10/2020) memicu kontroversi. 

Mereka yang menolak UU Cipta Tenaga Kerja berpandangan bahwa aturan di dalamnya tidak memperlakukan buruh, pekerja atau karyawan sebagaimana mestinya. Mulai dari soal pemberian upah atau gaji hingga soal aturan cuti. 

Meski tujuan utama dari UU ini sangat baik, yaitu mendatangkan investor, yang unjung-unjungnya juga untuk kesejahteraan rakyat. Namun, para pekerja tidak ingin dijadikan sebagai objek eksploitasi untuk menarik para investor.Mereka ingin diperlakukan dengan baik, adil dan layak. 

Dalam Islam, banyak sekali aturan tentang bagaimana seharusnya sebuah pekerjaan dilakukan. Di satu sisi, Islam sangat menekankan kepada para penganutnya untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Namun di sisi lain, Islam juga sangat menjaga hak-hak para pekerja, baik hak materiilnya maupun non-materiilnya.
     
Ajaran Islam yang menekankan soal etos kerja dapat dilihat pada QS. Al-Jumu’ah: 10 yang artinya, “Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung.” 

Islam mengajarkan agar muslimin setelah menunaikan ibadah, langsung bekerja keras untuk menghidupi dirinya. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa potensi yang ada di dunia ini berupa karunia Allah SWT sangat banyak. Maka dari itu, harus digali dan dimanfaatkan. Islam tidak menyukai muslimin yang malas bekerja, apalagi sampai putus asa.
 
Islam juga mengecam mereka yang menggantungkan nasibnya pada orang lain dengan cara meminta-minta, padahal fisiknya masih mampu untuk bekerja. “Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri.” (Hadis Imam Al-Baihaqi). 

Dalam hadit lain yang sangat populer dijelaskan: “Bekerjalah untuk duniamu seakan akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”

Namun di sisi lain, Islam juga sangat menekankan agar seorang atasan, majikan atau pengusaha menjaga hak pekerja, karyawan atau buruh yang bekerja padanya. Diantara hak-hak yang harus dijaga adalah memberi gaji mereka tepat waktu, memperlakukan mereka dengan baik dan adil (tidak mengeksploitasi), serta menjamin kesejahteraan mereka. 

Terkait soal gaji, ada sebuah hadits yang sangat populer yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi: “Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan.” Melalui hadist ini, Nabi SAW bukan hanya berpesan agar gaji diberikan tepat waktu. Tapi lebih dari itu, Nabi SAW berpesan agar karyawan atau pekerja tahu perincian gaji mereka. Sehingga mereka bisa menimbang apakah gaji itu telah sesuai atau adil dengan pekerjaan yang mereka jalankan.
  
Selain soal gaji, Islam juga menekankan soal memperlakukan karyawan, pekerja atau buruh dengan perlakuan yang baik, hormat dan layak. 

Sebagaimana tertuang dalam hadits Nabi SAW: “Mereka (para pelayanmu atau pekerja) adalah saudaramu. Allah SWT menempatkan mereka di bawah asuhanmu. Sehingga barangsiapa mempunyai saudara di bawah asuhannya, maka harus diberinya makan seperti apa yang dimakannya (sendiri) dan memberi pakaian seperti apa yang dipakainya (sendiri), dan tidak membebankan pada mereka tugas yang sangat berat. Dan jika kamu membebankannya dengan tugas seperti itu, maka hendaklah membantu mereka (mengerjakannya).” (HR. Muslim). Hadist ini merinci dengan jelas bagaimana seorang majikan atau atasa seharusnya memperlakukan karyawan atau pekerjanya. 

Mereka diminta berbuat adil dan menjaga perasaan mereka. Bahkan, Islam meminta mereka untuk berbuat egaliter (sejajar) dalam hal makanan, pakaian, dan bobot kerja. Tujuannya agar para pekerja merasa diperlakukan secara manusiawi. 

Tidak merasa diperlakukan secara tidak terhormat. Nabi SAW menekankan bahwa jika seorang atas terpakasa memberi beban kerja yang melebihi yang seharusnya kepada pekerjanya. Maka atas itu diminta untuk membantunya. Atau, dalam regulasi tenaga kerja era modern, kelebihan beban kerja dikonversikan dengan bonus lembur. 

Nabi SAW sendiri memberikan contoh nyata bagaimana memperlakukan pekerja atau karyawan dengan manusawi. Dalam sebuah hadistnya, Nabi SAW bersabda: “Barang siapa melakukan pekerjaan untukku (Nabi) dan baginya tidak mempunyai rumah, maka ambillah rumah, atau dia belum beristri, maka menikahlah atau dia tidak memiliki kendaraan, maka ambillah kendaraan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). 

Bahkan, dalam sebuah hadits dijelaskan secara detail soal hak seorang pegawai pemerintahan (pegawai negeri sipil). Berikut bunyi hadistnya: “Bagi seorang pegawai negeri, jika ia belum menikah sebaiknya ia menikah. Jika ia tidak memiliki pelayan, hendaklah ia memiliki pelayan. Jika ia tidak memiliki tempat tinggal untuk ditempati, maka ia boleh membangun sebuah rumah. Dan orang-orang yang melampaui batas-batas ini, maka ia adalah perebut tahta (pencuri).” (HR. Abu Dawud). 

Jadi, Islam sangat memperhatikan hak-hak pekerja, karyawan ataupun buruh. Baik itu hak-hak materiil maupun nonmateriil. Intinya, Islam ingin agar setiap atas atau majikan mensejahterakan pekerjanya dan memperlakukan mereka secara adil dan terhormat.

Oleh karena itu, pada kesempatan yang lain, Nabi SAW sangat mengecam mereka yang tidak memberikan haji dengan layak kepada karyawannya. 

“Ada tiga orang yang akan didakwa Allah besok di hari Kiamat, diantaranya adalah seseorang yang mempekerjakan buruh dan mereka tidak membayar upahnya.” (HR. al-Bukhari).

artikel terbaru