Ini Lho Ayat dan Hadist yang Mengatur Soal Upah yang Layak 

Hikmat Rabbbani

Berbagai pihak menentang disahkannya Omnibus Law Cipta Kerja sebagai undang-undang oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada Selasa (8/10/2020).

Salah satu alasan penolakannya terkait dengan hak-hak buruh. Mereka menilau UU yang baru ini tidak mengakomodir hak buruh dengan layak dan semestinya. Termasuk soal upah dan jam kerja.

Agama Islam juga banyak berbicara tentang hak-hak buruh, pekerja atau karyawan berupa upah atau gaji. Istilah yang digunakan dalam Al Quran untuk menyebut upah atau imbalan adalah “Ujrah”. Istilah ini tidak hanya mengacu pada imbalan atau upah dalam bentuk materiil yang diterima di dunia, tapi juga materiil berupa pahala yang diterima nanti di akhirat kelak. 

Terdapat beberapa ayat Al Quran dan hadist Nabi saw yang menjelaskan aturan tentang ini. Di antara ayat yang berkaitan dengan soal upah adalah QS. Al Taubah ayat 105. Bunyi ayat tersebut “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” 

Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT berjanji akan memberikan imbalan atau upah kepada mereka yang bekerja. Upah tersebut baik dalam bentuk imbalan di dunia maupun pahala di akhirat. Jadi, ayat ini mengandung pelajaran bahwa upah atau imbalan adalah janji yang pasti akan diberikan oleh Allah swt kepada mereka yang bekerja. 

Ayat lain yang berbicara tentang upah atau imbalan adalah QS. al-Kahfi ayat 30, yang berbunyi: “Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal soleh, tentulah kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.” Ayat ini juga menegaskan soal pentingnya upah atau imbalan dari sebuah pekerjaan yang dijalankan. Demikian pentingnya soal upah itu, sampai-sampai Allah SWT menegaskan bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan orang beriman dan beramal saleh tidak akan sia-siakan. Mereka akan diberi imbalan di dunia maupun akhirat kelak. 

Ayat lainnya yang menjelaskan tentang pentingnya upah adalah: “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang soleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran: 57)

Selain dalam Al Quran, penjelasan Islam tentang upah juga banyak tertuang dalam hadist Nabi SAW. Sebuah hadist yang sangat populer terkait dengan pemberian hak haji para buruh, pekerja atau karyawan adalah “Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan.” (Imam Al-Baihaqi). Dalam hadist ini, ditekankan bahwa upaha harus diberikan tepat pada waktunya. Islam mengecam mereka yang menunda-nunda atau mengulur-ngulur waktu pemberian upah.  

Hadist Nabi SAW yang lainnya yang berbicara tentang upah berbunyi demikian: “Ada tiga orang yang akan didakwa Allah besok di hari Kiamat, diantaranya adalah seseorang yang mempekerjakan buruh dan mereka tidak membayar upahnya.” (HR. al-Bukhari). Dalam hadist ini, Allah SWT dan Nabi-Nya mengecam keras mereka yang tidak memberikan hak karyawannya berupa upah. Orang seperti ini akan diberi hukuman berat kelak di akhirat. 

Dalam hadist yang lain, Nabi SAW bersabda: “Barang siapa melakukan pekerjaan untukku (Nabi) dan baginya tidak mempunyai rumah, maka ambillah rumah, atau dia belum beristri, maka menikahlah atau dia tidak memiliki kendaraan, maka ambillah kendaraan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). 

Bahkan, dalam hadist yang lain dijelaskan secara detail tentang hak-hak yang harus didapatkan oleh seorang pekerja di lingkungan pemerintahan (pegawai negeri sipil). Berikut bunyi hadistnya: “Bagi seorang pegawai negeri, jika ia belum menikah sebaiknya ia menikah. Jika ia tidak memiliki pelayan, hendaklah ia memiliki pelayan. Jika ia tidak memiliki tempat tinggal untuk ditempati, maka ia boleh membangun sebuah rumah. Dan orang-orang yang melampaui batas-batas ini, maka ia adalah perebut tahta (pencuri).” (HR. Abu Dawud)

Bahkan, Nabi SAW bukan hanya memperhatikan hak-hak buruh untuk mendapatkan upah yang layak. Bahkan, seorang budak juga mendapatkan perhatian Nabi SAW. Seperti tertuang dalam hadist berikut ini: “Hamba sahaya (yang bekerja) hendaknya diberi makan dan pakaian.” (HR. Muslim

Jadi, Nabi SAW sangat memerhatikan kesejahteraan para pekerja dari berbagai aspek. Mulai dari kebutuhan akan tempat tinggal, keluarga, hingga kepemilikan kendaraan. Islam sangat memprioritaskan hak-hak buruh.     
 

artikel terbaru