Ini 6 Kunci Bisnis Ala Rasulullah Yang Tak Pernah Rugi

Hikmat Rabbbani

Maulid Nabi Muhammad saw diperingati oleh muslimin Indonesia dan dunia untuk meneladani sosok Beliau saw. Salah satu yang bisa diteladani dari Rasulullah saw adalah kejujurannya dalam berdagang. Sejarah membuktikan bahwa Nabi saw sukses menjadi entrepreneur. Bahkan, disebutkan bahwa dalam berbisnis Nabi saw tidak pernah merugi. Ini bukti kepiawaian Beliau saw.

Dikutip dari beberapa buku, diantaranya Marketing Muhammad, Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad SAW (2020) karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, berikut tips-tips sukses bisnis ala Rasulullah saw:
 

1. Branding Yang Jujur

Dalam berbisnis, Nabi Muhammad saw memerintahkan untuk menjauhi sumpah. Terutama ketika mempromosikan (branding) barang dagangan kita. Tidak usah sampai bersumpah untuk menyakinkan pembeli, apalagi sampai berbohong. Cukup dengan menjaga kualitas barang dagangan kita, maka pembeli akan loyal dan percaya dengan brand kita (honest branding).

Nabi saw memberi peringatan keras tentang pebisnis yang manipulatif. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Sumpah itu melariskan barang dagangan, akan tetapi menghapus keberkahan”

Nabi saw sendiri diberi gelar Al Amin (terpercaya), karena Beliau memang selalu jujur dalam segala hal, termasuk ketika berbisnis. Para pembeli dan rekan bisnis Beliau saw tidak pernah ragu pada akuntabilitas dan transparansi Nabi saw dalam berbisnis.

2. Perang Harga? No!

Nabi saw melarang keras strategi perang harga dalam berbisnis. Cara seperti ini kerap dilakukan seorang pebisnis untuk menjatuhkan kompetitornya. Nabi saw selalu menjual harga barang dagangannya secara proporsional. Beliau saw tidak pernah mengambil keuntungan terlalu besar, sehingga akan merugikan pembeli atau rekanannya. Etika Beliau dalam berdagang ini membuat, harga di pasar selalu stabil.

Prinsip Nabi saw ini tercermin dalam ayat Al Quran berikut ini: “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat .” (QS. Asy-Syuraa: 20)

3. Jaga Kualitas Barang

Prinsip lainnya yang dianut oleh Rasulullah saw dalam berbisnis adaah menjaga kualitas barang jualannya. Beliau saw tidak pernah menjual barang-barang cacat. Sebab itu akan merugikan pembeli dan bisa menjadi dosa bagi si penjual. Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir, Rasulullah bersabda: Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada cacatnya kepada temannya, kecuali jika dia jelaskan. (HR. Ibn Majah)

4. Bisnis Manusiawi

Nabi saw selalu membangun hubungan baik dengan pelanggannya. Hubungan yang Beliau saw jalin bukan sebatas bisnis, tapi juga sosial. Beliau saw sangat memperhatikan pembeli atau rekanan bisnisnya. Hubungan sosial yang baik ini akan membuat relasi bisnis juga langgeng. Jadi, bisnis yang dijalankan Nabi saw bertopang pada prinsip kemanusiaan. Bisnis yang manusiawi, tidak sekedar komoditi.

5. Jujur (Terpercaya)

Nabi saw selalu menjaga sifat amanah. Baik dalam posisinya sebagai manajer yang menjalankan bisnis orang lain, termasuk Khadijah, atau dalam relasinya dengan pembeli. Salah satu ketertarikan Khadijah untuk merekrut Nabi saw menjadi CEO perusahaannya adalah sifat Nabi saw yang dikenal jujur.

Prinsip jujur dalam berbisnis ini ini tertuang dalam dua ayat berikut: “Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar Rahmaan:9) dan “Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil”. (QS. Al An’aam: 152)

6. Fathanah (Cerdas)

Nabi saw cerdas melihat peluang pasar. Namun, Beliau saw juga tetap menjaga prinsip kejujuran dan keadilan dalam memanfaatkan peluang tersebut. Pandai melihat peluang untuk dikonversikan menjadi keuntungan sangat penting dalam dunia bisnis. Tapi, tidak boleh melakukan tindakan yang ilegal atau manipulatif.


 

Editor: Jahziel

artikel terbaru