Mengenang dan Mengenal Lebih Dalam Pribadi Teddy Rusdy Bersama Kemala Atmojo

Normalita Vinska

Tidak banyak tokoh militer yang saya kenal secara pribadi. Dari yang sedikit itu saya bersyukur sempat mengenal Teddy Rusdy. Marsekal Muda TNI (Pur) itu punya pengalaman panjang di dunia militer. Daya ingatnya kuat dan wawasannya sangat luas. Karena itu, saya selalu bersyukur dan terkesima setiap kali punya kesempatan mendengarkan aneka cerita langsung dari Teddy Rusdy. Ada saja hal-hal baru atau unik yang tak pernah saya ketahui sebelumnya. Misalnya, bagaimana sebenarnya kisah di balik pembebasan sandera dalam drama pembajakan pesawat Garuda nomor penerbangan 206 (kemudian dikenal sebagai Woyla) pada 1981, dan lain-lain.

Saya cukup sering bertemu dengan Teddy Rusdy di rumahnya, di kawasan Pondok Indah, dalam berbagai acara atau kesempatan. Sesekali kami bertemu di lapangan golf Pondok Indah. Berkat beliau saya punya kesempatan bertemu dengan beberapa mantan “orang penting” di negeri ini, sebut misalnya, mantan KSAU Saleh Basarah. Kepada saya Saleh Basara bercerita bagaimana beliau bisa menjadi Duta Besar RI untuk Inggris dan apa yang dikerjakannya di sana. Kemudian, berkat pak Teddy juga saya sempat bertemu dengan mantan anggota Mossad (badan intelijen Israel), Henry, yang pernah bertugas di Jakarta. Bahkan kemudian saya juga bertemu dengan mantan direktur Mossad (Dov) ketika beliau berkunjung ke Jakarta. Dari kedua anggota Mossad itu, saya mendapat cerita-cerita yang rasanya sulit ditemukan dalam artikel di media massa bahkan mungkin dalam literatur resmi. Misalnya soal bagaimana mereka mendatangkan kelinci dan kemudian sperma sapi.

Teddy lahir di Jakarta, 11 Mei 1939 dari pasangan Nyi Mas Rodiah dan Hayuni Mathamin. Ia menempuh pendidikan Sekolah Dasar di Pandeglang dan Jakarta, serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta. Ketika menjadi siswa Sekolah Dasar Jaga Monyet Petojo, Teddy kerap mengunjungi perpustakaan di Jl. Hayam Wuruk. Ia mengagumi kisa-kisah petualangan dan mengagumi tokoh-tokoh seperti Tom Sawyer, Huckbery Finn, dan Robinson Crosoe. Tom Sawyer adalah karakter protagonis dalam novel fiksi karya Mark Twain, The Adventures of Tom Sawyer tahun 1876. Tom Sawyer juga muncul dalam tiga novel Mark Twain yang lain, yakni Adventures of Huckleberry Finn (1884); Tom Sawyer Abroad (1894); dan Tom Sawyer, Detective (1896).

Menginjak remaja, salah satu tokoh idolanya adalah Robinson Crusoe, seorang pelaut yang kisanya dia baca dalam novel The Life and Strange Surprising Advengtures of Robinson Crusoe karya Daniel Defoe. Pelaut itu sanggup hidup sendirian selama 28 tahun di sebuah pulau tak berpenghuni di Pantai Amerika, dekat Mouth of the Great Oroonoque. Ia terdampar karena kapalnya karam. Semua penumpangnya tewas kecuali dirinya.

Ketika SMA, ia mulai menggemari buku biografi tokoh-tokoh sejarah Indonesia dan dunia, seperti Bung Karno, Bung Tomo, Napoleaon Bonaprte, Mustafa Kemal Attaturk, Douglas Mc Arthur, dan lain-lain. Dari dunia petualangan, ilham, imajinasi, Teddy Rusdy mulai memnyukai kekuatan pikiran dan kemampuan memimpin. Pada tokoh Napoleon, misalnya, Teddy menemukan sosok seorang seorang ahli strategi perang, negarawan, dan inspirator perubahan hukum, ketatanegaraan di Eropa sejak abad 18. Lalu dari Mustafa Kemal Asttaturk, ia menemukan sosok prajurit-negarawan, seperti halnya Soekarno. Tamat SMA, Teddy kemudian menempuh pendidikan militer dan terus berkarir di militer sampai akhir hayatnya.

Pertemuan dengan Benny Moerdani

Salah satu cerita yang saya ingat adalah bagaimana pertemuan Teddy Rusdy dengan L.B. Moerdani secara fisik. Cerita ini memang patut dikenang sebab sejak pertemuan pertama itu, Teddy menjadi semakin dekat dengan L.B. Moerdani dan perjalanan hidup Teddy pun berubah.

Menjelang akhir pendidikan Sesko ABRI yang diikuti oleh Mayor Udara Teddy Rusdy, para pimpinan Markas Besar (Mabes) ABRI dan TNI AL memberikan ceramah pembekalan. Salah satunya adalah Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Leonardus Benjamin (L.B.) Moerdani sebagai pejabat Asisten Intelijen Hankam/Komkamtib.

Ketika L.B. Moerdani memberikan ceramah pembekalan di Sesko ABRI itu (1974), ia membahas topik tentang “Peristiwa Malari” alias Malapetaka Lima Belas Januari), suatu peristiwa yang diikuti oleh Teddy Rusdy selama bertugas di Nusa Tenggara Barat, baik selaku Komandan Pangkalan Udara Rembiga maupun selaku Sekretaris Daerah Golkar provinsi NTB dan Ketua Golkar Lombok Barat.

Demonstrasi dan kerusuhan pada 15 Januari 1974 di Jakarta itu berlangsung saat Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka, mengadakan kunjungan ke Jakarta pada 14-17 Januari 1974. Mahasiswa merencanakan demonstrasi menentang investasi asing dalam tata-ekonomi nasional pada hari kedatangan Perdana Menteri Kakuei Tanaka di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Aksi demo itu gagal menerobos ke Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, karena pangkalan udara saat itu dijaga ketat aparat keamanan. Namun, pada 15-16 Januari 1974, aksi protes itu berubah menjadi aksi kekerasan dan kerusuhan yang menelan korban 11 orang tewas, 300 luka-luka, dan 775 orang ditahan. Pada 17 Januari, Presiden Soeharto mengantar Perdana Menteri Kakuei Tanaka dengan menggunakan helikopter dari Bina Graha ke Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma.

Selesai memberikan ceramah, L.B. Moerdani membuka sesi tanya jawab. Pada saat itulah Teddy Rusdy memberanikan diri mengemukakan analisanya tentang “Peristiwa Malari” tadi. Menurut Teddy, ada unsur-unsur “terselubung” dalam Peristiwa Malari, selain sebagai akibat perbedaan sikap, pandangan, dan persepsi dua pembantu dekat Presiden Soeharto, yakni Jenderal TNI Sumitro yang waktu itu menjabat Kepala Staf Kopkamtib dengan letnan Jenderal TNI Ali Murtopo selaku Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto.

Rupanya  L.B. Moerdani terkesan dengan analisa Teddy Rusdy. Setelah masa pendidikan selesai, melalui KSAU Marsekal Saleh Basarah, Teddy diminta untuk menemui L.B. Moerdani. Intinya, L.B. Moerdani meminta agar Teddy Rusdy membantu L.B. Moerdani sebagai Staf Intelijen di Markas Besar ABRI. Bersama Teddy Rusdy, pada saat yang berdekatan, bergabung juga Letnan Kolonel Angkatan Darat Sudibyo, Nugroho, Letnan Kolonel Angkatan Laut Sudibyo Rahardjo, dan M. Arifin. Mereka berlima menjadi tim lingkar dalam Jenderal L.B. Benny Moerdani sampai beliau menjadi panglima ABRI dan Menteri Pertahanan Keamanan Republik Indonesia.

Sejak pertemuan di Mabes ABRI pada Februari 1975 itulah hubungan Teddy Rusdy dan L.B. Moerdani semakin intens. Selain hubungan antara atasan dan anak buah, keduanya kerap bermain golf bersama dan berdiskusi di bidang rencana serta pelaksanaan pembangunan ABRI masa depan, selama lebih dari dua puluh lima tahun. Bagi Teddy, hal itu merupakan pengalaman yang sangat berharga.

Begitulah sekelumit kisah perkenalan saya dengan Pak Teddy. Beliau meninggal dengan tenang pada Kamis 31 Mei 2018. Selama perkenalan saya dengan beliau, ada banyak yang bisa dikenang.

 

PENDIDIKAN MILITER:

  1. Air Force Flying Collage (India): Lulus Tahun 1961
  2. Sedaspa Angkatan ke-19: Lulus Tahun 1968
  3. Standarisasi Pama Angkatan ke-2: Lulus Tahun 1968
  4. Sekkau Angkatan ke-11: Lulus Tahun 1971
  5. Sesko ABRI Bagian Laut Angkjatan ke-1: Lulus Tahun 1975
  6. Sesregkt Seskogab Angkatan ke-1: Lulus Tahun 1978
     

JABATAN DI TNI AU DAN PENGALAMAN:

  • 25 Juni 1960: Diterima sebagai Siswa Sekolah di Pa Nav.
  • 28 Juli 1960: Dikirim ke India mengikuti Sekolah Nav.
  • 1 Januari 1961 Dinas Operasi Trikora di Maluku
  • 1 Januari 1962 Ditempatkan pada Skad 5 Nav Abd. Saleh
  • 1 Januari 1963 Diangkat sebagai Pav Skad 42 Wops 003 Iwy, Dinas Operasi Dwikora di Malaysia, Kalimantan, dan Sumatera Utara.
  • 1 Januari 1969 Diangkat sebagai Pa. Ops. Lanud Iwy
  • 23 Desember 1969 Diangkat sebagai Dan Lanud Rembiga
  • 1 Januari 1970 Dan Lanud Rembiga dan Dan Denma Makodau IV Ampenan, NTB
  • 1 Januari 1972 Ketua DPD Golkar Lombok Barat
  • 22 Februari 1973 Pakorda Kab. Lombok Barat dan Sekretaris DPD Golkar Provinsi NTB
  • 1 Januari 1974 Karo Jajaran Paban – VI/Milhan Sintel Hankam
  • 30 Mei 1979 Dosen/Patun Seskogab, Bandung
  • 1 April 1980 Paban VIII Staf Intel Hankam
  • 1 Desember 1983 Direktur “E”/Renlitbang Bais
  • 1 Juni 1986 Asrenum Pangab
  • 6 Oktober 1987 Asrenum Pangab dan Anggota MPR RI 1987-1992
  • 17 Februari 1992 Melepaskan Jabatan Organik/Fungsional Hankam/ABRI/Golongan Karya ABRI.

KENAIKAN PANGKAT:

1 Januari 1962 Letnan Muda Udara I

1 Juli 1962 Letnan Udara II

1 Januari 1964 Letnan Udara I

1 Januari 1966 Kapten Udara

1 Januari 1970 Mayor Udara

1 April 1975 Letnan Kolonel Udara

1 April 1980 Kolonel

1 Desember 1983 Marsekal Pertama TNI

1 Juni 1986 Marsekal Muda TNI

 

TANDA JASA DAN KEHORMATAN

  1. Bintang Shakti
  2. Bintang Dharma
  3. Bintang Yudha Dharma
  4. Bintang Swa Bhuwana Paksa Pratama
  5. Bintang Swa Bhuwana Paksa Nararya
  6. Sstyalencana Kesetiaan VIII
  7. Satyalencana Kesetiaan XVI
  8. Satyalencana Kesetiaan XXIV
  9. Satyalencana Satya Dharma
  10. Satyalencana Wira Dharma
  11. Satyalencana Dwidya Sistha
  12. Satyalencana Penegak
  13. Meritorius Services Medal (Military) Republic of Singapore
  14. Meritorius Services Medal (Military) Republic of Korea

 

Keterangan: artikel di atas ditulis oleh Kemala Atmojo
Sumber: Indonesiana.id

Editor: Gethya Nabilla

artikel terbaru

Berita Terpopuler

News

Celebrity

Viral